METRO — Universitas Muhammadiyah Metro (UM Metro) menyelenggarakan Masa Ta’aruf Mahasiswa (Mastama) bagi mahasiswa baru tahun akademik 2026/2027 pada 22–24 September 2026. Kegiatan tersebut menjadi bagian penting dalam proses pengenalan kehidupan perguruan tinggi sekaligus menjadi ruang bagi mahasiswa baru untuk memahami lingkungan akademik, budaya kampus, nilai-nilai kemuhammadiyahan, kehidupan kemahasiswaan, serta berbagai aspek yang mendukung proses adaptasi mereka sebagai bagian dari keluarga besar UM Metro.

Salah satu materi yang menjadi bagian penting dalam rangkaian Mastama tahun ini adalah “Kesehatan Mental dan Perlindungan terhadap Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi”. Materi tersebut disampaikan oleh Dekan Fakultas Kedokteran (FK) UM Metro, dr. Windi Pertiwi, MMR, sebagai bagian dari upaya memberikan pembekalan kepada mahasiswa baru mengenai pentingnya menjaga kesehatan mental sekaligus menciptakan lingkungan perguruan tinggi yang aman, sehat, nyaman, dan bebas dari berbagai bentuk kekerasan.

Mastama UM Metro berlangsung selama tiga hari, mulai Selasa, 22 September hingga Kamis, 24 September 2026. Selama rangkaian kegiatan, mahasiswa baru mendapatkan berbagai pembekalan yang berkaitan dengan kehidupan akademik dan kemahasiswaan serta diperkenalkan dengan lingkungan, sistem, nilai, dan budaya yang berlaku di UM Metro.

Pelaksanaan Mastama tidak hanya diarahkan untuk memperkenalkan lingkungan dan sistem pembelajaran di perguruan tinggi, tetapi juga menjadi momentum untuk membangun kesiapan mahasiswa dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan kampus. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, mahasiswa memasuki lingkungan perguruan tinggi yang memiliki karakteristik berbeda, baik dari sisi pola pembelajaran, tuntutan akademik, interaksi sosial, maupun tanggung jawab pribadi.

Dalam konteks tersebut, kesehatan mental menjadi salah satu aspek yang perlu mendapatkan perhatian. Mahasiswa dapat menghadapi berbagai bentuk penyesuaian, mulai dari tuntutan akademik, pengelolaan waktu, perubahan lingkungan sosial, tekanan untuk mencapai prestasi, hingga proses membangun relasi dengan teman, dosen, maupun tenaga kependidikan.

Dalam penyampaian materinya, dr. Windi Pertiwi mengajak mahasiswa baru untuk memahami bahwa kesehatan mental merupakan bagian penting dari kesehatan secara menyeluruh. Kondisi mental yang baik dapat mendukung mahasiswa dalam menjalani proses belajar, membangun hubungan sosial yang sehat, mengambil keputusan secara bertanggung jawab, serta menghadapi berbagai tantangan selama menjalani kehidupan perguruan tinggi.

Mahasiswa juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya mengenali kondisi diri dan memahami berbagai tanda ketika seseorang mulai mengalami tekanan psikologis. Kesadaran tersebut penting agar mahasiswa tidak mengabaikan perubahan kondisi dirinya maupun orang-orang di sekitarnya.

Dalam konteks kehidupan mahasiswa, kemampuan untuk mengenali dan mengelola tekanan menjadi bagian dari proses adaptasi di lingkungan perguruan tinggi. Mahasiswa diharapkan mampu membangun kebiasaan yang mendukung kesehatan diri, menjaga keseimbangan antara aktivitas akademik dan kehidupan sosial, serta tidak ragu mencari dukungan ketika menghadapi permasalahan yang sulit diatasi secara mandiri.

Dr. Windi juga mengaitkan pembahasan kesehatan mental dengan pentingnya menciptakan lingkungan kampus yang saling menghargai. Lingkungan perguruan tinggi merupakan ruang interaksi yang mempertemukan mahasiswa dengan latar belakang, karakter, pengalaman, dan kemampuan adaptasi yang beragam. Karena itu, diperlukan sikap saling menghormati dan kepedulian terhadap kondisi orang lain.

Perbedaan pendapat, dinamika organisasi, kegiatan akademik, maupun interaksi sosial merupakan bagian dari kehidupan kampus. Namun, setiap bentuk interaksi tetap perlu dilakukan dengan menghormati martabat, hak, batas pribadi, dan keselamatan masing-masing individu.

Materi kemudian dilanjutkan dengan pembahasan mengenai perlindungan terhadap kekerasan di lingkungan perguruan tinggi. Mahasiswa diberikan pemahaman bahwa lingkungan pendidikan harus menjadi ruang yang aman bagi setiap individu untuk belajar, berkembang, berorganisasi, dan berinteraksi.

Kekerasan di lingkungan perguruan tinggi dapat memiliki berbagai bentuk dan tidak selalu berbentuk kekerasan fisik. Mahasiswa perlu mengenali perilaku yang dapat merendahkan, mengintimidasi, mengancam, melakukan pelecehan, melakukan perundungan, maupun tindakan lain yang dapat menimbulkan kerugian atau rasa tidak aman bagi seseorang.

Pemahaman tersebut penting diberikan sejak mahasiswa pertama kali memasuki lingkungan perguruan tinggi agar mereka memiliki kesadaran mengenai batas-batas perilaku yang dapat diterima dalam interaksi akademik maupun sosial.

Mahasiswa baru juga diarahkan untuk memahami bahwa menciptakan lingkungan kampus yang aman bukan hanya menjadi tanggung jawab pimpinan universitas, dosen, maupun tenaga kependidikan. Mahasiswa memiliki peran penting dalam membangun budaya saling menghormati dan mencegah terjadinya kekerasan.

Budaya kampus yang sehat dapat dibangun melalui komunikasi yang terbuka, sikap saling menghargai, kepedulian terhadap sesama, serta keberanian untuk mengambil langkah yang tepat ketika menemukan atau mengalami situasi yang berpotensi menimbulkan kekerasan.

Pembekalan mengenai kesehatan mental dan perlindungan dari kekerasan tersebut menjadi semakin penting karena mahasiswa baru akan menjalani proses pendidikan dalam waktu yang cukup panjang di lingkungan perguruan tinggi. Pemahaman yang diberikan sejak awal diharapkan dapat menjadi bekal dalam membangun pola interaksi yang sehat selama menjalani kehidupan akademik.

Kegiatan Mastama juga menjadi momentum bagi mahasiswa baru untuk mengenal lebih dekat kehidupan akademik dan kemahasiswaan di lingkungan UM Metro. Mahasiswa diperkenalkan dengan berbagai unsur yang akan mendukung perjalanan pendidikan mereka, termasuk lingkungan fakultas, program studi, kegiatan kemahasiswaan, serta berbagai layanan yang dapat dimanfaatkan selama menjadi mahasiswa.

Bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran, pembekalan tersebut memiliki relevansi tersendiri. Pendidikan kedokteran memiliki tuntutan akademik dan profesional yang membutuhkan kemampuan mahasiswa dalam mengelola proses belajar, membangun hubungan interpersonal, serta menjaga keseimbangan antara tuntutan pendidikan dan kondisi diri.

Namun, pemahaman mengenai kesehatan mental dan perlindungan dari kekerasan merupakan kebutuhan seluruh mahasiswa, tanpa membedakan fakultas maupun program studi. Lingkungan pendidikan yang aman dan sehat menjadi salah satu fondasi agar setiap mahasiswa dapat menjalani proses pendidikan secara optimal.

Kehadiran dr. Windi Pertiwi, MMR, sebagai pembicara dalam kegiatan Mastama sekaligus menunjukkan keterlibatan Fakultas Kedokteran UM Metro dalam memberikan edukasi mengenai kesehatan secara komprehensif kepada mahasiswa. Kesehatan tidak hanya dipahami dari aspek fisik, tetapi juga mencakup kesehatan mental dan lingkungan sosial yang mendukung.

Melalui materi tersebut, mahasiswa baru diharapkan mampu membangun kesadaran untuk menjaga kesehatan dirinya, menghargai kondisi orang lain, serta berperan aktif dalam menciptakan lingkungan perguruan tinggi yang aman dan nyaman.

Rangkaian Mastama selama tiga hari juga menjadi momentum bagi mahasiswa baru untuk mulai membangun rasa memiliki terhadap UM Metro. Proses pengenalan yang dilakukan sejak awal diharapkan dapat membantu mahasiswa memahami bahwa kehidupan perguruan tinggi bukan hanya mengenai kegiatan perkuliahan, tetapi juga mengenai pembentukan karakter, tanggung jawab, kemampuan bekerja sama, serta kesiapan untuk berkembang sebagai bagian dari masyarakat akademik.

Selain pembekalan mengenai kesehatan mental dan perlindungan terhadap kekerasan, rangkaian Mastama menjadi ruang bagi mahasiswa baru untuk mengenal berbagai aspek kehidupan kampus secara lebih menyeluruh. Proses tersebut diharapkan membantu mahasiswa memahami lingkungan baru sekaligus membangun kesiapan untuk mengikuti proses pendidikan dan kegiatan kemahasiswaan selama menempuh studi di UM Metro.

Pembekalan kesehatan mental juga diharapkan dapat mendorong mahasiswa untuk lebih terbuka dalam membicarakan kondisi yang mereka hadapi. Mahasiswa perlu memahami bahwa menghadapi tekanan atau kesulitan dalam proses pendidikan merupakan situasi yang dapat terjadi dan perlu ditangani secara tepat.

Di sisi lain, mahasiswa juga diharapkan memiliki kepedulian terhadap teman sebaya. Lingkungan pertemanan dapat menjadi salah satu sumber dukungan yang penting selama menjalani kehidupan perguruan tinggi. Sikap saling memperhatikan dan membangun komunikasi yang sehat dapat membantu menciptakan suasana belajar yang lebih positif.

Melalui Mastama 2026, UM Metro berupaya membangun fondasi kehidupan kampus yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga memperhatikan kesehatan mental mahasiswa dan terciptanya lingkungan pendidikan yang aman.

Materi “Kesehatan Mental dan Perlindungan terhadap Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi” yang disampaikan dr. Windi Pertiwi, MMR, menjadi salah satu bagian penting dari upaya tersebut. Mahasiswa baru tidak hanya diperkenalkan dengan lingkungan akademik, tetapi juga diberikan pemahaman mengenai tanggung jawab bersama dalam menjaga kesehatan mental, menghormati sesama, serta mencegah berbagai bentuk kekerasan di lingkungan kampus.

Dengan berakhirnya rangkaian Mastama pada 24 September 2026, mahasiswa baru UM Metro diharapkan dapat memulai perjalanan akademiknya dengan bekal pengetahuan yang lebih luas mengenai kehidupan perguruan tinggi. Mereka diharapkan mampu beradaptasi dengan lingkungan baru, menjalankan proses pendidikan secara bertanggung jawab, membangun relasi yang sehat, serta ikut menjaga lingkungan kampus sebagai ruang pendidikan yang aman, nyaman, dan saling menghargai.

Keterlibatan dr. Windi Pertiwi, MMR, dalam rangkaian Mastama sekaligus memperkuat pesan bahwa pembangunan lingkungan perguruan tinggi yang sehat membutuhkan perhatian terhadap kesehatan mahasiswa secara menyeluruh. Melalui edukasi yang diberikan sejak awal masa perkuliahan, mahasiswa diharapkan memiliki kesadaran untuk menjaga kesehatan diri, menghormati hak orang lain, serta berkontribusi dalam menciptakan budaya akademik yang positif.

Dengan semangat tersebut, UM Metro terus mendorong terciptanya budaya akademik yang sehat dan lingkungan pendidikan yang memberikan ruang bagi mahasiswa untuk belajar, berkembang, berprestasi, serta membangun karakter sebagai bagian dari generasi penerus yang berilmu, berintegritas, dan memiliki kepedulian terhadap sesama.