
METRO — Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah (UM) Metro melibatkan berbagai pemangku kepentingan dalam pengembangan kurikulum Program Studi S1 Kedokteran dan Program Studi Pendidikan Profesi Dokter. Pelibatan tersebut dilakukan untuk memastikan kurikulum yang dikembangkan tidak hanya memenuhi standar pendidikan kedokteran, tetapi juga memiliki keterkaitan yang kuat dengan kebutuhan pelayanan kesehatan dan permasalahan kesehatan masyarakat.
Upaya tersebut diwujudkan melalui Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Kurikulum yang digelar di Ruang 4.1 Lantai 4 Gedung dr. Soetomo, Kampus 3 UM Metro, Kamis (3/9/2026).
Forum tersebut mempertemukan berbagai unsur yang memiliki keterkaitan langsung dengan pendidikan dan pelayanan kesehatan, mulai dari perguruan tinggi, pemerintah daerah, organisasi profesi, rumah sakit, puskesmas, BPJS Kesehatan, hingga akademisi. Kehadiran berbagai pemangku kepentingan tersebut menjadi bagian penting dalam proses penyusunan kurikulum berbasis kebutuhan, sehingga lulusan yang dihasilkan nantinya memiliki kompetensi yang relevan dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kebutuhan masyarakat.
Kegiatan dibuka oleh Wakil Rektor IV UM Metro Prof. Dr. Muhammad Ihsan Dacholfany, M.Ed., yang hadir mewakili Rektor UM Metro. Turut hadir Dekan Fakultas Kedokteran UM Metro dr. Windi Pertiwi, MMR, serta Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Lampung (Unila) Dr. dr. Evi Kurniawaty, S.Ked., M.Sc.
Sejumlah institusi kesehatan dan pemangku kepentingan turut hadir dalam kegiatan tersebut, antara lain Dinas Kesehatan Kota Metro, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Metro, BPJS Kesehatan Cabang Metro, RS Alamsjah Ratu Prawiranegara Lampung, Rumah Sakit Bhayangkara Lampung, RSUD Ahmad Yani Kota Metro, RSUD Menggala, RSUD Sumber Sari Bantul, serta Rumah Sakit Umum Muhammadiyah Metro.
Selain itu, Kepala UPTD Puskesmas se-Kota Metro, pengelola program studi, serta dosen Fakultas Kedokteran UM Metro juga turut berpartisipasi dalam pembahasan. Keterlibatan berbagai institusi tersebut memberikan perspektif yang lebih luas mengenai kebutuhan kompetensi dokter, karakteristik pelayanan kesehatan, permasalahan kesehatan masyarakat, serta tantangan yang dihadapi tenaga medis di lapangan.
Dalam sambutannya, Ketua Program Studi S1 Kedokteran UM Metro, dr. Micko Martha Thamrim, M.Biomed., mengatakan bahwa pelibatan stakeholder merupakan bagian penting dalam penyusunan dan pengembangan kurikulum. Menurutnya, kebutuhan pendidikan dokter tidak dapat dipetakan hanya berdasarkan perspektif internal program studi maupun perguruan tinggi.
“Kami menyadari untuk membentuk suatu kurikulum, kami tidak bisa hanya secara internal di program studi. Kami membutuhkan keterlibatan stakeholder internal maupun eksternal,” ujarnya.
Menurut dr. Micko, kurikulum pendidikan kedokteran harus mampu menjawab kebutuhan berbagai pihak yang nantinya akan berinteraksi dengan lulusan. Karena itu, masukan dari pengguna lulusan, wahana pendidikan klinik, fasilitas pelayanan kesehatan, organisasi profesi, pemerintah, hingga masyarakat menjadi bagian penting dalam proses pengembangan kurikulum.
Masukan tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kompetensi yang benar-benar dibutuhkan dokter ketika memasuki dunia pelayanan kesehatan. Dengan demikian, terdapat kesinambungan antara apa yang dipelajari mahasiswa selama menempuh pendidikan dengan kebutuhan yang mereka hadapi ketika berada di fasilitas pelayanan kesehatan.
Ia menambahkan bahwa masukan dari berbagai stakeholder akan menjadi bahan penyempurnaan sejumlah komponen kurikulum, mulai dari profil lulusan, capaian pembelajaran lulusan, bahan kajian, hingga proses pembelajaran.

Pengembangan kurikulum juga perlu memperhatikan dinamika perkembangan ilmu kedokteran, teknologi kesehatan, sistem pelayanan kesehatan, serta perubahan kebutuhan masyarakat. Dengan melibatkan stakeholder sejak tahap perumusan, program studi dapat memperoleh masukan yang lebih konkret mengenai kompetensi akademik, klinis, komunikasi, profesionalisme, dan kemampuan adaptasi yang perlu dimiliki oleh lulusan.
Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran UM Metro dr. Windi Pertiwi, MMR, menegaskan bahwa kualitas pendidikan dokter tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan sarana dan prasarana maupun kualitas tenaga pengajar. Menurutnya, kurikulum merupakan salah satu fondasi utama yang menentukan arah dan proses pendidikan kedokteran.
“Untuk menghasilkan dokter yang berkualitas tidak hanya dari sarana prasarana yang bagus dan dosen-dosen yang berkualitas, tetapi juga terkait dasar pelaksanaan pendidikan yang dijalankan melalui kurikulum,” kata Windi.
Ia menjelaskan bahwa Fakultas Kedokteran UM Metro saat ini menaungi empat program studi, yaitu S1 Kedokteran, Pendidikan Profesi Dokter, S1 Sains Biomedis, serta Kedokteran Hewan dan Profesi Dokter Hewan.
Khusus dalam pengembangan kurikulum S1 Kedokteran dan Pendidikan Profesi Dokter, FK UM Metro berupaya menghadirkan karakteristik pendidikan yang memiliki keterkaitan dengan persoalan kesehatan di daerah. Pendekatan tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu identitas sekaligus kekhasan dalam pengembangan pendidikan kedokteran di UM Metro.
Salah satu fokus yang dikembangkan adalah kedokteran pencegahan, khususnya pencegahan hipertensi.
Menurut dr. Windi, hipertensi merupakan salah satu persoalan kesehatan yang perlu mendapatkan perhatian karena dapat berkaitan dengan berbagai komplikasi apabila tidak dikendalikan dengan baik, termasuk gangguan pada jantung dan ginjal.
“Keunggulan kami terkait dengan kedokteran pencegahan hipertensi,” ujarnya.
Penguatan aspek preventif tersebut tidak hanya diarahkan pada kemampuan mahasiswa dalam memahami penyakit dari sisi diagnosis dan terapi, tetapi juga pada pemahaman mengenai faktor risiko, deteksi dini, edukasi kesehatan, perubahan perilaku, pemantauan kondisi kesehatan, serta upaya promotif dan preventif di masyarakat.
Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami bagaimana menangani pasien ketika sudah mengalami penyakit, tetapi juga memiliki kemampuan untuk melihat faktor risiko dan melakukan intervensi yang dapat mencegah terjadinya penyakit maupun komplikasi.
Keterlibatan rumah sakit dan puskesmas dalam FGD menjadi bagian penting karena kedua fasilitas pelayanan kesehatan tersebut merupakan salah satu lingkungan utama tempat dokter menjalankan praktik profesional.
Masukan dari rumah sakit diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kebutuhan kompetensi dokter dalam menghadapi kasus-kasus klinis, pola pelayanan pasien, komunikasi profesional, kolaborasi interprofesional, keselamatan pasien, hingga tantangan dalam pelayanan kesehatan.
Sementara itu, keterlibatan puskesmas memberikan perspektif yang lebih kuat mengenai pelayanan kesehatan tingkat pertama dan pendekatan berbasis masyarakat. Perspektif tersebut penting dalam mendukung pengembangan kompetensi dokter yang tidak hanya berorientasi pada pelayanan kuratif, tetapi juga memahami aspek promotif dan preventif.
Masukan dari Dinas Kesehatan Kota Metro juga menjadi bagian penting dalam melihat kebutuhan kesehatan masyarakat dari perspektif pemerintah daerah. Sementara itu, kehadiran IDI Kota Metro memberikan perspektif organisasi profesi mengenai perkembangan profesi kedokteran serta kompetensi yang perlu dipersiapkan bagi calon dokter.
Di sisi lain, keterlibatan BPJS Kesehatan Cabang Metro memberikan perspektif mengenai sistem pembiayaan dan penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang menjadi bagian dari ekosistem pelayanan kesehatan. Perspektif tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan dalam membangun pemahaman mahasiswa mengenai sistem kesehatan secara lebih menyeluruh.
Dengan demikian, FGD tidak hanya membahas kurikulum dari perspektif akademik, tetapi juga menghubungkannya dengan realitas pelayanan kesehatan yang akan dihadapi lulusan setelah menyelesaikan pendidikan.
Wakil Rektor IV UM Metro Prof. Dr. Muhammad Ihsan Dacholfany, M.Ed., dalam sambutannya sekaligus membuka kegiatan, menekankan bahwa pengembangan kurikulum harus diarahkan untuk membangun keunggulan dan kekhasan Fakultas Kedokteran UM Metro.
“Kita berharap kurikulum sesuai dengan visi, misi, dan tujuan Fakultas Kedokteran itu sendiri. Harus berbeda dan memiliki keunggulan,” katanya.
Menurut Prof. Ihsan, kurikulum tidak semestinya hanya disusun untuk memenuhi kebutuhan administratif maupun akreditasi. Lebih dari itu, kurikulum harus menjadi instrumen utama dalam memastikan bahwa proses pendidikan benar-benar menghasilkan lulusan sesuai dengan visi institusi dan kebutuhan masyarakat.
Ia juga menyampaikan apresiasi atas keterlibatan Fakultas Kedokteran Universitas Lampung yang selama ini menjadi bagian penting dalam pembinaan Fakultas Kedokteran UM Metro. Selain itu, apresiasi juga disampaikan kepada rumah sakit, organisasi profesi, fasilitas pelayanan kesehatan, pemerintah daerah, BPJS Kesehatan, serta seluruh stakeholder yang hadir dan memberikan masukan dalam kegiatan tersebut.
Menurutnya, keterlibatan berbagai pihak menunjukkan bahwa pengembangan pendidikan kedokteran merupakan tanggung jawab bersama. Perguruan tinggi memiliki peran dalam menyiapkan pendidikan dan pembelajaran, sementara fasilitas pelayanan kesehatan, pemerintah, organisasi profesi, dan pengguna lulusan memberikan perspektif mengenai kebutuhan kompetensi dan tantangan yang dihadapi di lapangan.
“Yang paling penting, kita sudah berusaha. Kita sudah mengadakan FGD, sudah berdoa, tinggal kita kembalikan kepada Allah. Semoga kegiatan yang kita lakukan bermanfaat dan mendapatkan hasil yang baik,” ujarnya.
FGD tersebut selanjutnya menjadi ruang diskusi bagi para stakeholder untuk memberikan masukan terhadap arah pengembangan kurikulum S1 Kedokteran dan Pendidikan Profesi Dokter UM Metro.
Pembahasan diarahkan pada berbagai komponen kurikulum yang berkaitan dengan profil lulusan, capaian pembelajaran lulusan, kebutuhan kompetensi, bahan kajian, strategi pembelajaran, pembelajaran klinik, serta keterkaitan pendidikan dengan kebutuhan pelayanan kesehatan.
Masukan yang diperoleh dari berbagai stakeholder akan menjadi bahan pertimbangan bagi Fakultas Kedokteran UM Metro dalam melakukan penyempurnaan dokumen kurikulum. Proses tersebut diharapkan dapat memastikan adanya keterkaitan antara visi dan misi fakultas dengan kompetensi lulusan yang hendak dibentuk.
Selain itu, hasil FGD juga diharapkan dapat memperkuat hubungan antara Fakultas Kedokteran UM Metro dengan berbagai wahana pendidikan dan fasilitas pelayanan kesehatan. Kolaborasi tersebut penting dalam mendukung pelaksanaan pendidikan klinik serta memberikan pengalaman pembelajaran yang relevan kepada mahasiswa.
Melalui kegiatan ini, Fakultas Kedokteran UM Metro menunjukkan komitmennya untuk mengembangkan pendidikan kedokteran yang adaptif terhadap kebutuhan masyarakat dan perkembangan sistem kesehatan.
Pelibatan stakeholder sejak tahap pengembangan kurikulum diharapkan dapat menciptakan keterhubungan yang lebih kuat antara dunia pendidikan, dunia pelayanan kesehatan, organisasi profesi, pemerintah, dan masyarakat.
Kurikulum yang dikembangkan juga diharapkan tidak berhenti pada pencapaian aspek pengetahuan dan keterampilan klinis, tetapi turut membentuk kemampuan mahasiswa dalam berkomunikasi, bekerja secara kolaboratif, memahami sistem pelayanan kesehatan, menerapkan prinsip profesionalisme dan etika, serta memberikan pelayanan yang berorientasi pada keselamatan dan kebutuhan pasien.
Khusus melalui penguatan kedokteran pencegahan dan fokus pada pencegahan hipertensi, FK UM Metro berupaya memberikan ruang bagi mahasiswa untuk memahami pentingnya pendekatan promotif dan preventif dalam menghadapi masalah kesehatan masyarakat.
Dengan demikian, pendidikan dokter diharapkan tidak hanya menghasilkan lulusan yang mampu menangani pasien ketika sakit, tetapi juga memiliki perspektif kesehatan masyarakat dan kemampuan untuk berkontribusi dalam upaya pencegahan penyakit.
Prof. Ihsan menambahkan bahwa FGD pengembangan kurikulum merupakan salah satu tahapan penting dalam proses penyempurnaan pendidikan dokter di FK UM Metro. Proses tersebut akan dilanjutkan dengan pengolahan dan integrasi berbagai masukan stakeholder ke dalam dokumen kurikulum sesuai dengan arah pengembangan fakultas dan program studi.
Dengan melibatkan pengguna lulusan dan institusi pelayanan kesehatan sejak tahap pengembangan, kurikulum diharapkan mampu menjadi lebih responsif terhadap perubahan kebutuhan pelayanan kesehatan sekaligus tetap berlandaskan pada standar pendidikan kedokteran.
Kegiatan tersebut sekaligus memperlihatkan komitmen FK UM Metro untuk membangun pendidikan kedokteran melalui pendekatan kolaboratif. Sinergi antara perguruan tinggi, rumah sakit, puskesmas, pemerintah daerah, organisasi profesi, BPJS Kesehatan, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya menjadi bagian penting dalam menciptakan ekosistem pendidikan kedokteran yang berkelanjutan.
Pada akhirnya, pengembangan kurikulum ini diharapkan dapat mendukung terwujudnya lulusan Fakultas Kedokteran UM Metro yang memiliki kompetensi akademik dan klinis, menjunjung tinggi profesionalisme dan etika, mampu beradaptasi dengan perkembangan ilmu dan teknologi kesehatan, serta memiliki kepekaan terhadap persoalan kesehatan masyarakat.
Melalui proses yang partisipatif dan berbasis masukan berbagai pihak, Fakultas Kedokteran UM Metro terus berupaya memastikan bahwa kurikulum yang diterapkan tidak hanya relevan bagi kebutuhan pendidikan saat ini, tetapi juga mampu menjadi fondasi dalam mempersiapkan dokter yang responsif terhadap tantangan pelayanan kesehatan di masa mendatang.