Metro, UM Metro – Mahasiswa Program Studi Sarjana Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Metro (FK UM Metro) mengikuti rangkaian praktikum Parasitologi pada Blok 8 Sistem Imun dan Infeksi Tropis. Kegiatan ini diampu oleh dr. Nurida Rahmawati, M.Biomed., dan dilaksanakan dalam tiga kali pertemuan yang meliputi pemeriksaan Sediaan Apus Darah Tepi (SADT), identifikasi nyamuk, serta identifikasi vektor. Seluruh rangkaian pembelajaran diakhiri dengan ujian praktikum sebagai bentuk evaluasi terhadap pemahaman materi dan keterampilan laboratorium mahasiswa.
Praktikum Parasitologi merupakan bagian penting dalam pembelajaran kedokteran, khususnya untuk memperkuat pemahaman mahasiswa mengenai parasit, organisme pembawa penyakit, serta mekanisme penularan penyakit infeksi tropis. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya mempelajari konsep teoretis, tetapi juga memperoleh pengalaman dalam melakukan pengamatan mikroskopis, mengenali karakteristik morfologi spesimen, dan memahami kaitan antara agen penyebab penyakit dengan vektor penularannya. Pendampingan dosen pengampu diharapkan dapat membantu mahasiswa mengembangkan ketelitian, keterampilan observasi, dan penalaran ilmiah dalam kegiatan laboratorium.

Pada pertemuan pertama, mahasiswa melaksanakan praktikum pemeriksaan Sediaan Apus Darah Tepi (SADT) yang berfokus pada identifikasi parasit Plasmodium, yaitu parasit penyebab penyakit malaria. Dalam kegiatan ini, mahasiswa mempelajari dua jenis sediaan darah, yaitu sediaan darah tebal dan sediaan darah tipis, yang memiliki fungsi berbeda dan saling melengkapi. Sediaan darah tebal digunakan terutama untuk mendeteksi keberadaan parasit malaria, sedangkan sediaan darah tipis membantu mengamati morfologi parasit secara lebih terperinci dan mendukung identifikasi spesies Plasmodium.
Mahasiswa juga mempelajari prinsip persiapan sediaan, proses pewarnaan sesuai prosedur pemeriksaan, serta teknik pengamatan menggunakan mikroskop. Melalui pengamatan tersebut, mahasiswa diperkenalkan pada karakteristik morfologi parasit dan tahapan perkembangannya yang dapat ditemukan pada sediaan darah. Praktikum ini menekankan pentingnya ketelitian dalam membedakan parasit dari komponen darah lainnya serta memahami peran pemeriksaan mikroskopis sebagai salah satu metode untuk membantu diagnosis malaria.
Pada pertemuan kedua, mahasiswa mengikuti praktikum identifikasi nyamuk berdasarkan karakteristik morfologinya. Pengamatan mencakup bagian tubuh nyamuk, seperti kepala, toraks, abdomen, sayap, dan kaki, serta ciri-ciri lain yang dapat membantu membedakan kelompok nyamuk. Melalui kegiatan ini, mahasiswa mempelajari pentingnya pengenalan morfologi sebagai dasar identifikasi nyamuk yang memiliki peran dalam penularan penyakit.
Mahasiswa juga diperkenalkan pada beberapa genus nyamuk yang penting secara medis, antara lain Aedes, Anopheles, dan Culex. Nyamuk Aedes berperan dalam penularan dengue, sedangkan nyamuk Anopheles betina merupakan vektor penularan malaria. Beberapa spesies Culex juga dapat berperan dalam penularan penyakit tertentu, bergantung pada spesies dan wilayah geografisnya. Melalui praktikum ini, mahasiswa diharapkan mampu memahami hubungan antara karakteristik nyamuk, pola penularan penyakit, dan pentingnya pengendalian vektor dalam upaya pencegahan penyakit di masyarakat.

Pada pertemuan ketiga, mahasiswa melaksanakan praktikum identifikasi vektor untuk memperluas pemahaman mengenai organisme yang berperan dalam penularan agen penyebab penyakit kepada manusia. Mahasiswa melakukan pengamatan terhadap karakteristik morfologi spesimen, meliputi bentuk tubuh, struktur anggota tubuh, dan ciri pembeda lainnya yang dapat digunakan dalam proses identifikasi. Kegiatan ini memperkenalkan mahasiswa pada pentingnya mengenali jenis vektor berdasarkan karakteristiknya serta memahami kaitannya dengan penyakit infeksi tropis.
Selain melakukan pengamatan, mahasiswa mempelajari peran vektor dalam siklus penularan penyakit, baik melalui mekanisme biologis maupun mekanis. Pemahaman tersebut membantu mahasiswa menghubungkan karakteristik organisme dengan potensi perannya dalam penyebaran agen infeksi. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan mampu memahami bahwa identifikasi vektor merupakan salah satu aspek penting dalam kajian parasitologi, epidemiologi, serta upaya pencegahan dan pengendalian penyakit menular.

Setelah menyelesaikan ketiga pertemuan, rangkaian praktikum diakhiri dengan ujian praktikum untuk mengevaluasi penguasaan materi dan keterampilan laboratorium mahasiswa. Evaluasi mencakup materi pemeriksaan SADT, identifikasi nyamuk, dan identifikasi vektor sesuai dengan pembelajaran yang telah diberikan. Mahasiswa diharapkan mampu memahami prinsip pemeriksaan sediaan darah tebal dan tipis, mengenali karakteristik morfologi spesimen, serta menjelaskan hubungan antara parasit, vektor, dan penyakit infeksi tropis.
Ujian praktikum juga menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk menunjukkan ketelitian, kecermatan, dan kemampuan menerapkan pengetahuan selama kegiatan laboratorium. Melalui evaluasi ini, mahasiswa dapat mengukur pemahaman terhadap materi yang telah dipelajari sekaligus memperkuat keterampilan dasar yang diperlukan dalam pembelajaran kedokteran, khususnya terkait pemeriksaan laboratorium dan identifikasi organisme penyebab maupun pembawa penyakit.
Melalui rangkaian praktikum Parasitologi pada Blok 8 Sistem Imun dan Infeksi Tropis, FK UM Metro terus mendukung pembelajaran yang mengintegrasikan teori dan praktik laboratorium. Di bawah bimbingan dr. Nurida Rahmawati, M.Biomed., mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan keterampilan observasi, ketelitian, dan penalaran ilmiah dalam memahami penyakit infeksi tropis. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat dasar pengetahuan mahasiswa dalam pemeriksaan laboratorium, identifikasi parasit dan vektor, serta pemahaman mengenai diagnosis dan pencegahan penyakit sebagai bagian dari proses pembentukan calon dokter yang kompeten dan profesional.